Kamis, 13 September 2012

Mengapa Perlu Berutang?


objective
is you understand




Apa itu utang?
Secara umum, utang mempunyai pengertian kewajiban baik yang berupa materi maupun non-materi yang harus dibayarkan kepada kreditur atau si pemberi utang tersebut. Pandangan umum tersebut juga mempunyai persepsi yang sama dengan yang diutarakan oleh para ahli mengenai apa itu yang dimaksud utang? Menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim (1994 : 128) pengertian utang adalah uang atau jasa yang dipinjamkan oleh pihak lain, merupakan kewajiban resmi dari sebuah usaha yang timbal balik dari perjanjian tertulis maupun lisan. Jika berbicara utang dari sudut pandang hukum, utang memiliki ruang lingkup yang luas. Sebab berdasarkan definisi utang dalam hukum, utang merupakan suatu kewajiban yang dapat berupa apapun yang harus dibayar kembali kepada yang diberi janji dan atau si pemberi utang. Sebagai contoh, seorang pengusaha menjanjikan kepada seorang petani apabila keuntungan yang diperoleh dari bisnis pengolahan tepung beras meningkat, maka harga padi yang akan dibeli dari petani juga ikut meningkat. Hal tersebut masih menjadi janji saat pengusaha belum mengalami peningkatan keuntungan, dan sesudah terjadi peningkatan keuntungan maka hal tersebut berubah statusnya menjadi utang (kewajiban) bagi si pengusaha dan hak bagi petani yang harus dipenuhi.
Dalam ilmu akuntansi juga dikenal istilah utang, hanya saja ruang lingkupnya tidak seluas saat utang dipandang dari sisi hukum. Utang dalam akuntansi merupakan utang materil yang berarti memiliki nilai rill dan bisa dinilai secara nominal uang. Pada kegiatan usaha, utang digunakan sebagai alternative pembiayaan jika modal sendiri atau modal bersama sudah tidak cukup untuk memenuhi kegiatan usaha. Karena begitu pentingnya utang dalam kegiatan usaha, akuntansi diperlukan untuk mencatat dan memanajemen utang. Akuntasi membagi jenis utang berdasarkan jangka waktunya menjadi:
·         Utang lancar, adalah utang yang diharapkan akan dibayar dalam jangka waktu 1 tahun atau 1 siklus operasi normal perusahaan dan dengan menggunakan aktiva lancar.
·         Utang jangka panjang, adalah utang yang masa pelunasannya lebih dari 1 tahun.
Tujuan utang
Indonesia sebagai Negara merdeka tentunya memiliki tujuan nasional yang harus diwujudkan. Seperti yang tertuang pada alinea pertama pembukaan UUD 1945, tujuan nasional bangsa kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterahkan kehidupan bangsa dan ikut menjaga perdamaian dunia. Untuk mewujudkannya diperlukan sebuah sumberdaya yang berasal dari dalam Negara Indonesia, sumberdaya tersebut dapat berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, dan sumberdaya ekonomi. Sumberdaya yang ada harus dikelola secara baik dan berkesinambungan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Dalam mengelola sumberdaya tersebut, Negara harus mengeluarkan besaran dana yang disebut belanja Negara.  Terkadang sumber dana yang dimiliki lebih kecil daripada belanja yang harus dilakukan. Oleh karena itu, Negara melakukan suatu kebijakan yang dinamakan utang guna memenuhi belanja Negara untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita nasional. Utang juga telah menjadi sarana pemenuhan dana segar yang paling efektif bagi Negara. Dalam masa orde lama kebutuhan untuk membiayai pengeluaran Negara yang defisit kerap kali diatasi dengan mencetak uang kertas baru, karena pada masa ini berutang pada Negara barat atau Negara maju masih dianggap tidak pantas. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya hiperinflasi pada masa pemerintahan orde lama tersebut. Akhirnya  setelah mengalami pergantian pemerintahan ke orde baru berutang kepada Negara maju merupakan solusi terbaik daripada harus mencetak uang baru yang berimbas pada memburuknya perekonomian dan mengakibatkan inflasi.
Pembiayaan defisit dan pembiayaan surplus
Berdasarkan uu 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara, Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya. Berbicara tentang pembiayaan di Indonesia , tidak terlepas dari adanya reformasi di bidang keuangan Negara. Reformasi keuangan Negara terjadi karena dirasa pengelolaan keuangan pada masa orde baru yang masih menggunakan produk hukum peninggalan colonial belanda. Sudah dianggap ketinggalan jaman dan tidak cocok dipakai pada masa modern ini. Salah satu perubahan itu terlihat dari format APBN T-account pada masa orde baru menjadi I-account pada masa reformasi. Perubahan ini didasarkan karena adanya kelemahan dalam penggunaan T-account dalam penganggaran. Beberapa yang dianggap sebagai kelemahan T-account adalah:
·         Tidak memberikan informasi yang jelas mengenai pengendalian defisit,
·         Kurang transparan sehingga format ini perlu disempurnakan,
·         Versi T-account tidak menunjukan dengan jelas komposisi anggaran yang dikelola pempus dan pemda,
·         Format T-account, menganggap pinjaman luar negeri  sebagai penerimaan pembangunan dan pembayaran cicilan utang luar negeri dianggap sebagai pengeluaran rutin.
Keterkaitan dengan pembiayaan, dapat dilihat pada poin pertama dan keempat, dimana informasi pengendalian defisit kurang jelas serta pinjaman utang luar negeri dianggap sebagai penerimaan pembangunan dan pembayaran cicilan utang dianggap sebagai pengeluaran rutin. Namun bila pinjaman tidak dikategorikan sebagai utang dan justru dianggap sebagai penerimaan pembangunan, maka usaha untuk membuat suatu penganggaran yang efisien dan efektif akan sulit untuk dilakukan karena pengeluaran harus diimbangkan dengan penerimaan yang di dalamnya termasuk pinjaman dan utang. Disamping itu, inefisiensi penganggaran akan semakin tinggi karena tidak anggapan bahwa penerimaan utang tidak akan memberatkan pengeluaran Negara.
Berangkat dari hal tersebut, maka format T-account sudah dianggap tidak cocok lagi dengan keadaan Indonesia dan internasional sekarang. Maka format penganggaan T-account diubah menjadi I-account yang dianggap lebih transparan, jelas, dan mempermudah dalam melaksanakan pengambilan keputusan serta sesuai dengan Government Finance Statictics. Dalam penganggaran yang memakai format I-account, pinjaman utang luar negeri tidak dianggap sebagai penerimaan pembangunan dan cicilan bunga terhadap utang pinjaman luar negeri tidak dianggarkan sebagai pengeluaran rutin, melainkan kedua hal tersebut dianggarkan sebagai kewajiban atas pembiayaan sebagai akibat anggaran yang defisit.
Dalam format I-account, anggaran berimbang dan dinamis yang terdapat pada ormat T-account berubah menjadi anggaran surplus-defisit.  Surplus dan defisit terjadi karena adanya selisih lebih atau kurang antara penerimaan dan belanja. Defisit terjadi jika jumlah pengeluaran lebih besar daripada jumlah penerimaan. Guna mengatasi deisit anggaran, maka pembiayaan merupakan satu-satunya solusi yang perlu dilakukan. Dalam melakukan pembiayaan, banyak pilihan jenis-jenis pembiayaan yang dapat diambil. Diantaranya adalah pembiayaan non utang seperti pencairan dana cadangan dan pembiayaan utang seperti obligasi. Umumnya pemerintah mengutamakan pembiayaan non-utang untuk menutupi pembiayaan. Tetapi ada keterbatasan dana dalam sumber pembiayaan non-utang, maka salah satunya adalah menggunakan sumber pembiayaan dari utang untuk menutup defisit. Hal ini disebabkan karena banyaknya utang yang mudah didapatkan dengan menerbitkan obligasi Negara (SUN) atau melalui pinjaman dari lembaga keuangan internasional seperti world bank, asian development bank, maupun IMF. Pembiayaan defisit dari hutang memerlukan daya tarik yaitu dengan tingginya imbal hasil (bunga) yang ditawarkan. Dampak dari suku bunga yang tinggi pada sisi keuangan negara adalah akan terjadinya capital inflow. Keseimbangan APBN dari pembiayaan hutang tidak selamanya berdampak positif bagi perekonomian, meskipun defisit masih di bawah dari ketentuan undang – undang. Neoclasic dan Keynes telah memberikan gambaran akibat bahwa pembiayaan defisit APBN dari hutang yang didukung oleh tingkat suku bunga yang tinggi akan berbentuk Crowding Out dan Crowding In. Pandangan Neoclasic menjelaskan bahwa ketika pemerintah menerbitkan Bond sebagai salah satu cara untuk mengatasi defisit APBN, maka akan terjadi perlambatan kegiatan ekonomi di masyarakat yang disebabkan oleh bunga pinjaman yang harus dibayarkan meningkat akibat dari suku bunga yang di tetapkan pemerintah mengalami kenaikan. Proses tersebut akan berdampak pada pengalihan pinjaman dari dalam negeri ke luar negeri atau yang disebut sebagai Crowding Out.
Hubungan utang dengan APBN
APBN merupakan sebuah dokumen keuangan Negara yang di dalamnya mengandung rincian mengenai pendapatan Negara, belanja Negara, dan sumber pembiayaan defisit.  Seperti yang dibahas di atas bahwa sumber pembiayaan juga terdiri dari utang maupun pinjaman baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Pembiayaan atau pembelanjaan defisit  oleh pemerintah ditutup dengan pinjaman pemerintah baik jangka panjang maupun jangka pendek; baik dari dalam maupun luar negeri. Utang merupakan bagian dari kebijakan fiskal (APBN) yang menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan ekonomi secara keseluruhan. Utang adalah konsekuensi dari postur APBN (defisit) dimana penerimaan negara lebih kecil daripada belanja negara. Dalam hal-hal tertentu pembiayaan pembangunan melalui utang Negara itu lebih baik daripada melalui penarikan pajak atau pencetakan uang. Menteri Keuangan dan Badan Perencanaan Nasional atas nama Presiden mempunyai tanggung jawab dalam mengkoordinasikan penyusunan APBN. Menteri Keuangan bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan penyusunan konsep anggaran belanja rutin. Sementara itu Bappenas dan Menteri Keuangan bertanggungjawab dalam mengkoordinasikan penyusunan anggaran belanja pembangunan
Pembiayaan APBN melalui utang merupakan bagian dari pengelolaan keuangan Negara yang lazim dilakukan oleh suatu Negara :
·         Utang merupakan instrument utama pembiayaan APBN untuk menutup defisit APBN, dan untuk membayar kembali hutang yang jatuh tempo (debt refinancing);
·         Refinancing dilakukan dengan terms & conditions (biaya & resiko) utang baru yang lebih baik.

Referensi:


Jumat, 17 Juni 2011

10 Prinsip Ekonomi

Dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu diperhadapkan dengan berbagai macam problema keuangan atau lebih luasnya problema ekonomi, misalnya krisis saat terjadi hiperinflansi,hal ini merupakan suatu dampak dari peredaran uang dalam pasar yang malebihi nilai rill dari barang yang diperdagangkan.
Dari yang saya pelajari dalam perkuliahan ada 10 macam prinsip ekonomi yang harus dipegang:
1.      TRADE-OFF
There’s no such thing as free lunch (Tak ada yang gratis di dunia ini), untuk mendapat sesuatu biasanya harus mengorbankan sesuatu yang lain. Keputusan dihadapkan pada pertukaran (tradeoff)
2.BIAYA
Karena semua orang dihadapkan pada tradeoff, maka untuk mengambil keputusan harus membandingkan biaya dan manfaat.

3. RASIONAL
Orang rasional berpikir pada batas-batas.

4. TANGGAP TERHADAP INSENTIF
Manusia mengambil keputusan dg cara membandingkan biaya dan keuntungan. Kebiasaan ini akan berubah jika ada perubahan pada keuntungan atau biaya (berarti tanggap terhadp insentif)
5. PERDAGANGAN MENGUNTUNGKAN SEMUA PIHAK
Tidak mungkin semua kebutuhan manusia akan bisa disediakan sendiri. Dengan perdagangan akan menciptakan spesialisasi shg dpt menekan biaya produksi (harga murah).

6. PASAR MERUPAKAN TEMPAT YG BAIK UTK MENGORGANISASIKAN KEGUNAAN EKONOMI
Perekonomian pasar adalah suatu jenis perekonomian yang mengalokasikan sumberdayanya melalui keputusan terdesentralisasi dari berbagai perusahaan dan rumah tangga seiring dengan interaksi mereka di pasar barang dan jasa.

7. PEMERINTAH TERKADANG MAMPU MENINGKATKAN HASIL PASAR
Kegagalan Pasar (market failure) adalah situasi di mana suatu pasar gagal mengalokasikan sumber dayanya secara efisien dengan kekuatan sendiri.
Salah satu penyebab kegagalan pasar adalah eksternalitas.
Eksternalitas adalah dampak dari tindakan seseorang terhadap kesejahteraan orang lain.
Penyebab yang lain adalah Market Power
8.   STANDAR HIDUP SUATU NEGARA BERGANTUNG PADA KEMAMPUANNYA MENGHASILKAN BARANG DAN JASA
9.   HARGA-HARGA MENINGKAT JIKA PEMERINTAH MENCETAK UANG TERLALU BANYAK
10.  MASYARAKAT MENGHADAPI TRADEOFF JANGKA PENDEK ANTARA INFLASI DAN PENGANGGURAN